Semarang, 20 Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 143 Universitas Diponegoro kelompok 6 menggelar kegiatan Multidisplin 1 edukatif berjudul “KDRT Bukan Aib, Tapi Kekerasan Yang Harus Dilaporkan” di Rusun RW 12 Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara. Kegiatan ini menggabungkan pendekatan dari bidang Hubungan Internasional, Hukum, dan Psikologi untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada masyarakat, khususnya bapak dan ibu penghuni rusun.Pelaksanaan program sosialisasi ini dilatarbelakangi kurangnya edukasi dan pemahaman masyarakat mengenai KDRT terutama langkah preventif dalam mencegah terjadinya KDRT di wilayah RW 12.
Program ini dibuka dengan edukasi mengenai pentingnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Fokus utama disampaikan pada SDGs ke-5 tentang Kesetaraan Gender. Dalam kegiatan ini dijelaskan bahwasannya kesetaraan gender sangat penting baik dalam skala global maupun domestic, selain itu melalui diskusi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana peran serta keluarga dan komunitas dalam mewujudkan kehidupan yang setara dan bebas dari kekerasan.
Selanjutnya pada sesi kedua dan ketiga, mengangkat pembahasan mengenai KDRT dari sudut pandang hukum, yang diawali dengan pre-test berisi 10 pertanyaan seputar fakta dan mitos mengenai KDRT. Hasil pre-test ini menjadi cerminan sejauh mana pemahaman awal masyarakat terhadap isu ini. Kemudian, pemaparan dilanjutkan dengan materi mengenai KDRT berdasarkan UU 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT dan salah satu jenis KDRT yang masih asing di masyarakat, yaitu kekerasan ekonomi, termasuk penyebab, dampaknya bagi korban, dan sanksi yang didapatkan.
Sesi terakhir, pemaparan berfokus pada sudut pandang Psikologi, yaitu pengelolaan emosi dan komunikasi sehat untuk keluarga. Sesi ini diawali dengan pengenalan potensi konflik yang memicu emosi negatif, pemahaman emosi dan teknik pengelolaannya, tips berkomunikasi secara sehat dengan pasangan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan jika terjadi KDRT.
Setelah pemaparan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan pengisian post-test dengan pertanyaan yang sama pada saat pre-test guna mengetahui peningkatan pemahaman peserta. Sesi post-test mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta program, hal ini ditunjukkan salh satu peserta mengangkat tangan dan mengatakan, “tapi memang benar sih ekonomi juga menjadi faktor munculnya KDRT”. Dengan adanya antusiasme yang tinggi dari Masyarakat memberikan gambaran bahwasannya pemaparan mengenai materi KDRT dapat dikatakan sukses.